assalamualaikum

Ibnu Shayyad dikira Dajjal

عَنْ عَبْدِاللهِ قَالَ:
كُنَّا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم. فَمَرَرْنَا بِصِبْيَانِ فِيْهِمْ اِبْنُ صَيَّادٍ. فَفَرَّ الصِّبْيَانُ وَجَلَسَ اِبْنُ صَيَّادٍ. فَكَأَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَرَهَ ذَلِكَ. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : تَرِبَتْ يَدَاكَ. أَتَشْهَدُ أَنِّي رَسُوْلَ اللهِ؟. فَقَالَ: لاَ. بَلْ تَشْهَدُ أَنِّي رَسُوْلَ اللهِ. فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ: ذَرْنِي. يَا رَسُوْلَ اللهِ! حَتَّى أَقْتُلُهُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنْ يَكُنِ الَّذِي تَرَى، فَلَنْ تَسْتَطِيْعَ قَتْلَهُ

Hadits riwayat Abdullah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :
Kami bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan kami bertemu dengan beberapa orang anak-anak, mereka bersama Ibnu Shayyad, anak-anak tadi lari semuanya dan Ibnu Shayyad tetap duduk. Sepertinya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam kurang menyukai hal tersebut. Maka Nabi berkata kepadanya : Kiranya engkau beruntung! Adakah engkau mengakui, bahwa aku adalah Rasulullah? Jawabnya: Tidak! Melainkan engkau yang harus mengakui bahwa aku Rasulullah. Lalu Umar bin Khattab berkata: Biarkan aku Ya Rasulullah membunuhnya, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menjawab: Kalau seandainya dia benar apa yang engkau duga, tentu engkau tidak akan bisa membunuhnya.

عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عُمَرَ؛
أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ اِنْطَلَقَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي رَهْطٍ قِبَلَ ابْنِ صَيَّادٍ حَتَّى وَجَدَهُ يَلْعَبُ مَعَ الصِّبْيَانِ عِنْدَ أُطُمِ بَنِي مَغَالَةَ. وَقَدْ قَارَبَ اِبْنَ صَيَّادٍ، يَوْمَئِذٍ، اَلْحِلْمَ. فَلَمْ يَشْعُرْ حَتَّى ضَرَبَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ظَهْرَهُ بِيَدِهِ. ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ِلاِبْنِ صَيَّادٍ : أَتَشْهَدُ أَنِّي رَسُوْلُ اللهِ؟. فَنَظَرَ إِلَيْهِ ابْنُ صَيَّادٍ فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُوْلُ اْلأُمِّيِّيْنَ. فَقَالَ اِبْنُ صَيَّادٍ لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم: أَتَشْهَدُ أَنِّي رَسُوْلُ اللهِ؟ فَرَفَضَهُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَقَالَ : آمَنْتُ بِاللهِ وَبِرُسُلِهِ. ثُمَّ قَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَاذَا تَرَى؟. قَالَ اِبْنُ صَيَّادٍ: يَأْتِيْنِي صَادِقٌ وَكَذَّابٌ. فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : خَلَطَ عَلَيْكَ اْلأَمْرُ. ثُمَّ قَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنِّي قَدْ خَبَأْتُ لَكَ خَبِيْئًا. فَقَالَ اِبْنُ صَيَّادٍ : هُوَ الدُّخُ. فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: اَخْسَأُ. فَلَنْ تَعْدُوَ قَدْرَكَ. فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ: ذَرْنِي. يَا رَسُوْلَ اللهِ! أَضْرِبُ عُنُقَهُ. فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنْ يَكُنْهُ فَلَنْ تُسَلِّطَ عَلَيْهِ. وَإِنْ لَمْ يَكُنْهُ فَلاَ خَيْرَ لَكَ فِي قَتْلِهِ
وَقَالَ سَالِمُ بْنُ عَبْدِاللهِ: سَمِعْتُ عَبْدَاللهِ بْنِ عُمَرَ يَقُوْلُ:
اِنْطَلَقَ بَعْدَ ذَلِكَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَأُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ اَْلأَنْصَارِيُّ إِلَى النَّخْلِ الَّتِي فِيْهَا اِبْنُ صَيَّادٍ. حَتَّى إِذَا دَخَلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم اَلنَّخْلَ، طَفَقَ يَتَّقِي بِجُذُوْعِ النَّخْلِ. وَهُوَ يَخْتَلُ أَنْ يَسْمَعَ مِنْ اِبْنِ صَيَّادٍ شَيْئًا، قِبَلَ أَنْ يَرَاهُ اِبْنُ صَيَّادٍ. فَرَآهُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ مُضْطَجِعٌ عَلَى فِرَاشٍ فِي قَطِيْفَةٍ، لَهُ فِيْهَا زَمْزَمَةٌ. فَرَأَتْ أَمُّ ابْنِ صَيَّادٍ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يَتَّقِي بِجُذُوْعِ النَّخْلِ. فَقَالَتْ ِلاِبْنِ صَيَّادٍ: يَا صَافُ! (وَهُوَ اِسْمُ اِبْنُ صَيَّادٍ) هَذَا مُحَمَّدٌ. فَثَارَ اِبْنُ صَيَّادٍ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: لَوْ تَرَكَتْهُ بَيَّنَ.
قَالَ سَالِمٌ: قَالَ عَبْدُاللهِ بْنِ عُمَرَ:
فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي النَّاسِ فَأَثْنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ. ثُمَّ ذَكَرَ الدَّجَّالَ فَقَالَ: إِنِّي َلأُنْذِرُكُمُوْهُ. مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ وَقَدْ أَنْذَرَهُ قَوْمَهُ. لَقَدْ أَنْذَرَهُ نُوْحٌ قَوْمَهُ. وَلَكِنْ أَقُوْلُ لَكُمْ فِيْهِ قَوْلاً لَمْ يَقُلُّهُ نَبِيٌّ لِقَوْمِهِ. تَعْلَمُوْا أَنَّهُ أَعْوَرَ. وَأَنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ
Hadits riwayat Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma :
Bahwa Umar bin Khathab pergi bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dalam suatu rombongan menuju tempat Ibnu Shayyad dan menjumpainya sedang bermain dengan anak-anak kecil di dekat gedung Bani Maghalah, sedangkan pada waktu itu Ibnu Shayyad sudah mendekati usia balig. Ia tidak merasa kalau ada Nabi Shallallahu alaihi wassalam sehingga beliau menepuk punggungnya lalu Nabi berkata kepada Ibnu Shayyad: Apakah kamu bersaksi bahwa aku ini utusan Allah? Ibnu Shayyad memandang beliau lalu berkata: Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan orang-orang yang buta huruf. Lalu Ibnu Shayyad balik bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam: Apakah engkau bersaksi bahwa aku utusan Allah? Beliau menolaknya dan bersabda: Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya. Kemudian Rasulullah berkata kepadanya: Apa yang kamu lihat? Ibnu Shayyad berkata: Aku didatangi orang yang jujur dan pendusta. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Perkara ini telah menjadi kabur bagimu. Lalu Rasulullah melanjutkan: Aku menyembunyikan sesuatu untukmu. Ibnu Shayyad berkata: Asap. Beliau bersabda: Pergilah kau orang yang hina! Kamu tidak akan melewati derajatmu! Umar bin Khathab berkata: Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya! Beliau bersabda: Kalau dia Dajjal, dia tidak akan dapat dikalahkan, kalau bukan maka tidak ada baiknya kamu membunuh dia. Salim bin Abdullah berkata: Aku mendengar Abdullah bin Umar berkata: Sesudah demikian, Rasulullah dan Ubay bin Kaab Al-Anshari pergi menuju ke kebun korma di mana terdapat Ibnu Shayyad. Setelah masuk ke kebun beliau segera berlindung di balik batang pohon korma mencari kelengahan untuk mendengarkan sesuatu yang dikatakan Ibnu Shayyad sebelum Ibnu Shayyad melihat beliau. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dapat melihat ia sedang berbaring di atas tikar kasar sambil mengeluarkan suara yang tidak dapat dipahami. Tiba-tiba ibu Ibnu Shayyad melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam yang sedang bersembunyi di balik batang pohon korma lalu menyapa Ibnu Shayyad: Hai Shaaf, (nama panggilan Ibnu Shayyad), ini ada Muhammad! Lalu bangunlah Ibnu Shayyad. Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Seandainya ibunya membiarkannya, maka akan jelaslah perkara dia. Diceritakan oleh Salim, bahwa Abdullah bin Umar berkata: Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam berdiri di tengah-tengah orang banyak lalu memuji Allah dengan apa yang layak bagi-Nya kemudian menyebut Dajjal seraya bersabda: Sungguh aku peringatkan kamu darinya dan tiada seorang nabi pun kecuali pasti memperingatkan kaumnya dari Dajjal tersebut. Nabi Nuh as. telah memperingatkan kaumnya, tetapi aku terangkan kepadamu sesuatu yang belum pernah diterangkan nabi-nabi kepada kaumnya. Ketahuilah, Dajjal itu buta sebelah matanya, sedangkan Allah Maha Suci lagi Maha Luhur tidak buta

Standard

assalamualaikum

Sepuluh Tanda Kiamat

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ أَسِيْدِ الْغِفَّارِي قَالَ:
اِطَّلَعَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَيْنَا وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ. فَقَالَ: مَا تَذَاكَرُوْنَ؟ قَالُوْا: نَذْكُرُ السَّاعَةَ. قَالَ : إِنَّهَا لَنْ تَقُوْمَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ. فَذَكَرَ الدُّخَانَ، وَالدَّجَّالَ، وَالدَّابَّةَ، وَطُلُوْعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنُزُوْلَ عِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ صلى الله عليه وسلم، وَيَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ. وَثَلاَثَةَ خُسُوْفٍ: خُسُفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخُسُفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخُسُفٌ بِجَزِيْرَةِ الْعَرَبِ. وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ، تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ
Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :
Nabi Shalallallahu alaihi wassalam datang kepada kami dan kami sedang memperbincangkan sesuatu. Nabi bertanya: “Apakah yang kalian perbincangkan?” Kami menjawab : “Kami memperbincangkan hal kiamat.” Nabi bersabda: “Sesungguhnya kiamat itu tidak akan terjadi sebelum kalian melihat sepuluh tanda-tandanya. Lalu beliau menyebut: Asap (kabut), Dajjal , binatang besar, matahari terbit dari tempat terbenamnya, turunnya Isa anak Maryam Shallallahu alaihi wassalam, ya’juj ma’juj, tiga kali gerhana: sekali ditimur, sekali dibarat, sekali dijazirah Arab dan terakhir api yang keluar dari negeri Yaman menghalau orang banyak ketempat mereka berkumpul.

Standard

assalamualaikum

Kejadian-Kejadian Sebelum Datang Hari Kiamat
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيْمَتَانِ. وَتَكُوْنُ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيْمَةٌ. وَدَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ
Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Hari kiamat tidak akan terjadi kecuali setelah dua golongan besar saling berperang sehingga pecahlah peperangan hebat antara keduanya padahal dakwah mereka adalah satu
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرَ الْهَرْجُ. قَالُوْا: وَمَا الْهَرَجُ؟ يَا رَسُوْلَ اللهِ! قَالَ: اَلْقَتْلُ. اَلْقَتْلُ
Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Tidak akan terjadi hari kiamat kecuali setelah banyak peristiwa haraj. Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apakah haraj itu? Beliau menjawab: Pembunuhan, pembunuhan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يُحْسِرُ الْفُرَّاتُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ. يَقْتَتِلُ النَّاسُ عَلَيْهِ. فَيَقْتُلُ مِن كُلِّ مِائَةٍ، تِسْعَةٌ وَتِسْعُوْنَ. وَيَقُوْلُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ: لَعَلِّي أَكُوْنُ أَنَا الَّذِي أَنْجُوْ
Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum sungai Euphrat menyingkap gunung emas, sehingga manusia saling membunuh (berperang) untuk mendapatkannya. Lalu terbunuhlah dari setiap seratus orang sebanyak sembilan puluh sembilan dan setiap orang dari mereka berkata: Semoga akulah orang yang selamat

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَخْرُجُ نَارٌ مِنْ أَرْضِ الْحِجَازِ، تُضِئُ أَعْنَاقَ اْلإِبِلِ بِبُصْرى
Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Kiamat tidak akan terjadi sebelum api muncul dari tanah Hijaz yang dapat menerangi leher-leher unta di Basrah.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَضْطَرِبَ أَلْيَاتُ نِسَاءِ دَوْسٍ. حَوْلَ ذِي الْخَلَصَةِ.
وَكَانَتْ صَنَمًا تَعْبُدُهَا دَوْسٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ بِتَبَالَةَ
Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Kiamat tidak akan terjadi sebelum pinggul-pinggul kaum wanita suku Daus bergoyang di sekeliling Dzul Khalashah, yaitu sebuah berhala yang disembah suku Daus di Tabalah pada zaman jahiliah
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمُرُّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُوْلُ: يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ
Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Kiamat tidak akan terjadi sebelum seseorang melewati kuburan orang lain lalu berkata: Alangkah senangnya bila aku menempati tempatnya!.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ قَحْطَانَ يَسُوْقُ النَّاسُ بِعَصَاهُ
Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Kiamat tidak akan terjadi sebelum seorang lelaki muncul dari Qahthan menggiring manusia dengan tongkatnya
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوْا قَوْمًا كَأَنَّ وُجُوْهَهُمُ الْمَجَانُ الْمُطْرِقَةُ. وَلاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوْا قَوْمًا نِعَالُهُمُ الشَّعْرُ
Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Kiamat tidak akan terjadi sebelum kalian memerangi suatu kaum yang wajahnya seperti perisai dan kiamat tidak akan tiba sebelum kalian memerangi suatu kaum yang sandalnya terbuat dari bulu
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : قَدْ مَاتَ كِسْرَى فَلاَ كِسْرَى بَعْدَهُ. وَإِذَا هَلَكَ قَيْصَرُ فَلاَ قَيْصَرَ بَعْدَهُ. وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ! لَتُنْفَقَنَّ كُنُوْزُهُمَا فِي سَبِيْلِ اللهِ
Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Sesungguhnya Kisra (Raja Persia) telah meninggal maka tiada lagi Kisra setelahnya. Apabila seorang Kaisar (Raja Romawi) meninggal, maka tiada lagi kaisar setelahnya. Demi Tuhan yang diriku didalam kekuasanNya, sesungguhnya perbendaharaan keduanya akan dibelanjakan (diinfaqkan) di jalan Allah.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلُ الْمُسْلِمُوْنَ الْيَهُوْدَ. فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِمُوْنَ. حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُوْدُ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ. فَيَقُوْلُ الْحَجَرُ أَوِ الشَّجَرُ: يَا مُسْلِمُ! يَا عَبْدَاللهِ! هَذَا يَهُوْدِي خَلْفِي. فَتَعَالِ فَاقْتُلْهُ. إِلاَّ الْغَرْقَدُ. فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُوْدِ
Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Kiamat tidak akan terjadi sebelum kaum muslimin memerangi orang-orang Yahudi, lalu kaum muslimin dapat mengalahkan (membunuh) mereka, sampai-sampai seorang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon lalu batu dan pohon itu berseru: Hai orang muslim, hai hamba Allah, ini seorang Yahudi di belakangku, kemari dan bunuhlah dia! Kecuali pohon gharqad (sejenis pohon cemara atau pohon berduri), karena pohon itu adalah pohon orang Yahudi
عَنِ ابْنِ عُمَرَ،
عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَتُقَاتِلَنَّ الْيَهُوْدَ. فَلَنُقَتِّلَنَّهُمْ حَتىَّ يَقُوْلَ الْحَجَرُ: يَا مُسْلِمُ! هَذَا يَهُوْدِيٌّ. فَتَعَالِ فَاقْتُلْهُ
Hadits riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma:
Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Kamu sekalian pasti akan memerangi orang-orang Yahudi, lalu kamu akan membunuh mereka, sehingga batu berkata: Hai muslim, ini orang Yahudi, kemari dan bunuhlah dia!

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ،
عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُوْنَ كَذَّابُوْنَ قَرِيْبٌ مِنْ ثَلاَثِيْنَ. كُلُّهُمْ يَزْعَمُ أَنَّهُ رَسُوْلُ اللهِ
Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu:
Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam, beliau bersabda: Kiamat tidak akan terjadi sebelum dibangkitkan dajjal-dajjal pendusta yang berjumlah sekitar tiga puluh, semuanya mengaku bahwa ia adalah utusan Allah

Standard

assalamualaikum

Pembunuh dan Yang Terbunuh Masuk Neraka
عَنْ أَبِي بَكْرَةَ
سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِذَا تَوَاجَهَ الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفِيْهِمَا، فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُوْلُ فِي النَّارِ. قَالَ: فَقُلْتُ، أَوْ قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! هَذَا الْقَاتِلُ. فَمَا بَالُ الْمَقْتُوْلُ؟ قَالَ: إِنَّهُ قَدْ أَرَادَ قَتْلَ صَاحِبِهِ
Hadits riwayat Abu Bakrah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Apabila dua orang muslim saling bertarung dengan menghunus pedang mereka, maka pembunuh dan yang terbunuh, keduanya akan masuk neraka. Aku (Abu Bakrah) bertanya atau beliau ditanya: Wahai Rasulullah, kalau yang membunuh itu sudah jelas berdosa, tetapi bagaimana dengan yang terbunuh? Beliau menjawab: Karena sesungguhnya ia juga ingin membunuh saudaranya.

Standard

assalamualaikum

Turunnya fitnah bagaikan turunnya air hujan

عَنْ أُسَامَةَ؛
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَشْرَفَ عَلَى أُطُمٍ مِنْ آطَامِ الْمَدِيْنَةِ. ثُمَّ قَالَ: هَلْ تَرَوْنَ مَا أَرَى؟ إِنِّي َلأَرَى مَوَاقِعَ الْفِتَنِ خَلاَلَ بُيُوْتِكُمْ، كَمَوَاقِعِ الْقَطْرِ

Hadits riwayat Usamah Radhiyallahu’anhu :
Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalam menaiki salah satu bangunan tinggi di Madinah, kemudian beliau bersabda: Apakah kalian melihat apa yang aku lihat? Sesungguhnya aku melihat tempat-tempat terjadinya fitnah di antara rumah-rumahmu bagaikan tempat turunnya air hujan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: سَتَكُوْنُ فِتَنٌ، اَلْقَاعِدُ فِيْهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ، وَالْقَائِمُ فِيْهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي فِيْهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي. مَنْ تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفُهُ. وَمَنْ وَجَدَ فِيْهَا مَلْجَأً فَلْيَعُذْ بِهِ
Hadtis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Akan terjadi fitnah di mana orang yang duduk (menghindar dari fitnah itu) lebih baik daripada yang berdiri dan orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan dan orang yang berjalan lebih baik daripada yang berlari (yang terlibat dalam fitnah). Orang yang mendekatinya akan dibinasakan. Barang siapa yang mendapatkan tempat berlindung darinya, hendaklah ia berlindung.

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتَنٌ. أَلاَ ثُمَّ تَكُوْنُ فِتْنَةٌ اَلْقَاعِدُ فِيْهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي فِيْهَا. وَالْمَاشِي فِيْهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي إِلَيْهَا. أَلاَ، فَإِذَا نَزَلَتْ أَوْ وَقَعَتْ، فَمَنْ كَانَ لَهُ إِبِلٌ فَلْيَلْحَقْ بِإِبِلِهِ. وَمَنْ كَانَتْ لَهُ غَنَمٌ فَلْيَلْحَقْ بِغَنَمِهِ. وَمَنْ كَانَتْ لَهُ أَرْضٌ فَلْيَلْحَقْ بِأَرْضِهِ. قَالَ فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! أَرَأَيْتَ مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ إِبِلٌ وَلاَ غَنَمٌ وَلاَ أَرْضٌ؟ قَالَ: يَعْمِدُ إِلَى سَيْفِهِ فَيَدُقُّ عَلَى حَدِّهِ بِحَجَرٍ. ثُمَّ لَيُنْجِ إِنِ اسْتَطَاعَ النَّجَاءَ. اَللّهُمَّ! هَلْ بَلَّغْتُ؟ اَللّهُمَّ! هَلْ بَلَّغْتُ؟ اَللّهُمَّ! هَلْ بَلَّغْتُ؟. قَالَ فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! أَرَأَيْتَ إِنْ أُكْرِهْتُ حَتَّى يُنْطَلَقَ بِي إِلَى أَحَدِ الصَّفَّيْنِ، أَوْ إِحْدَى الْفِئَتَيْنِ، فَضَرَبَنِي رَجُلٌ بِسَيْفِهِ، أَوْ يَجِئُ سَهْمٌ فَيَقْتُلُنِي؟ قَالَ: يَبُوْءُ بِإِثْمِهِ وَإِثْمِكَ. وَيَكُوْنُ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
Hadtis riwayat Abu Bakrah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Sesungguhnya akan terjadi beberapa fitnah (kekacauan). Ketahuilah sesudah itu terjadi pula fitnah. Orang yang duduk dimasa fitnah tersebut lebih baik dari pada orang yang berjalan kepadanya. Orang yang berjalan lebih baik baik daripada orang yang berlari kepadanya. Ketahuilah, apabila fitnah itu telah terjadi, maka barang siapa yang mempunyai onta hendaklah dia menghubungi ontanya dan siapa yang mempunyai kambing hendaklah dia menghubungi kambingnya dan barang siapa mempunyai tanah hendaklah menghubungi tanahnya! Seorang laki-laki bertanya: Ya Rasulullah!, Bagaimana pendapatmu tentang orang yang tidak mempunyai onta, kambing dan tanah? Beliau menjawab: Diambilnya pedang lalu diasahlah pedangnya dengan batu. Kemudian dia menyelamatkan dirinya kalau bias selamat. Ya Allah! Telah kusampaikan, Ya Allah! Telah kusampaikan, Ya Allah! Telah kusampaikan. Seorang laki-laki bertanya: Ya Rasulullah! Bagaimana jika sekiranya saya dipaksa sehingga saya terlibat kepada salah satu dua barisan yang bertentangan, atau salah satu golongan, lalu seorang laki-laki memukulkan pedangnya padaku atau datang panah membunuh saya? Beliau menjawab : Orang itu akan kembali membawa dosanya dan menanggung dosamu dan dia menjadi isi neraka.

Standard

Assalamualaikum

Pembenaman tentara yang menyerbu Ka’bah
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ:
عَبَثَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي مَنَامِهِ. فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ! صَنَعْتَ شَيْئًا فِي مَنَامِكَ لَمْ تَكُنْ تَفْعَلُهُ. فَقَالَ: اَلْعَجَبُ إِنَّ نَاسًا مِنْ أُمَّتِي يَؤُمُوْنَ بِالْبَيْتِ بِرَجُلٍ مِنْ قُرَيْشٍ. قَدْ لَجَأَ بِالْبَيْتِ. حَتَّى إِذَا كَانُوْا بِالْبَيْدَاءِ خُسِفَ بِهِمْ. فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ! إِنَّ الطَّرِيْقَ قَدْ يَجْمَعُ النَّاسُ. قَالَ: نَعَمْ. فِيْهِمْ اَلْمُسْتَبْصِرُ وَالْمَجْبُوْرُ وَابْنُ السَّبِيْلِ. يَهْلَكُوْنَ مُهْلِكًا وَاحِدًا. وَيَصْدُرُوْنَ مُصَادِرَ شَتَى. يُبْعِثُهُمُ اللهُ عَلَى نِيَاتِهِمْ
Hadits riwayat Aisyah, ia berkata Radhiyallahu’anhu :
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bergerak-gerak di dalam tidurnya, maka kami bertanya: Wahai Rasulullah, ketika engkau tidur, engkau melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan? Beliau menjawab: Mengherankan! Ada sekelompok manusia dari umatku yang datang menuju Baitullah karena seorang lelaki Quraisy yang berlindung di Baitullah, sehingga ketika mereka telah tiba di suatu padang sahara mereka dibenamkan. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, di jalan itu banyak berkumpul manusia? Beliau menjawab: Benar! Di antara mereka terdapat orang yang pintar, orang yang terpaksa dan ada juga orang yang dalam perjalanan mereka seluruhnya binasa dalam satu waktu lalu mereka akan dibangkitkan oleh Allah di tempat yang berbeda-beda sesuai dengan niat mereka

Standard

Tibanya fitnah dan terbukanya dinding Ya’juj dan Ma’juj

عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ؛
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم اِسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ وَهُوَ يَقُوْلُ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرِّ قَدْ اِقْتَرَبَ. فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ مِثْلَ هَذِهِ. وَعَقَدَ سُفْيَانُ بِيَدِهِ عَشْرَةً. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! أَنَهْلِكُ وَفِيْنَا الصَّالِحُوْنَ؟ قَالَ: نَعَمْ. إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ

Hadits riwayat Zainab binti Jahsy Radhiyallahu’anha:
Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalam bangun dari tidurnya sambil bersabda: Laa ilaaha illallaah, celakalah orang-orang Arab karena suatu bencana akan terjadi, yaitu hari ini dinding (bendungan) Ya’juj dan Ma’juj telah terbuka sebesar ini. Dan Sufyan (perawi Hadits ini) melingkarkan jarinya membentuk angka sepuluh (membuat lingkaran dengan jari telunjuk dan ibu jari). Aku (Zainab binti Jahsy) bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kita semua akan binasa padahal di antara kita banyak terdapat orang-orang saleh? Beliau menjawab: Ya, jika banyak terjadi kemaksiatan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ،
عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: فُتِحَ اَلْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ مِثْلَ هَذِهِ. وَعَقَدَ وُهَيْبُ بِيَدِهِ تِسْعِيْنَ

Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam, beliau bersabda: Hari ini dinding Ya’juj dan Ma’juj telah terbuka sebesar ini. Wuhaib (perawi Hadits) melingkarkan jarinya membentuk angka sembilan puluh (menekuk jari telunjuk sampai ke pangkal ibu jari).

Standard

Tibanya fitnah dan terbukanya dinding Ya’juj dan Ma’juj

عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ؛
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم اِسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ وَهُوَ يَقُوْلُ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرِّ قَدْ اِقْتَرَبَ. فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ مِثْلَ هَذِهِ. وَعَقَدَ سُفْيَانُ بِيَدِهِ عَشْرَةً. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! أَنَهْلِكُ وَفِيْنَا الصَّالِحُوْنَ؟ قَالَ: نَعَمْ. إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ

Hadits riwayat Zainab binti Jahsy Radhiyallahu’anha:
Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalam bangun dari tidurnya sambil bersabda: Laa ilaaha illallaah, celakalah orang-orang Arab karena suatu bencana akan terjadi, yaitu hari ini dinding (bendungan) Ya’juj dan Ma’juj telah terbuka sebesar ini. Dan Sufyan (perawi Hadits ini) melingkarkan jarinya membentuk angka sepuluh (membuat lingkaran dengan jari telunjuk dan ibu jari). Aku (Zainab binti Jahsy) bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kita semua akan binasa padahal di antara kita banyak terdapat orang-orang saleh? Beliau menjawab: Ya, jika banyak terjadi kemaksiatan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ،
عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: فُتِحَ اَلْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ مِثْلَ هَذِهِ. وَعَقَدَ وُهَيْبُ بِيَدِهِ تِسْعِيْنَ

Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam, beliau bersabda: Hari ini dinding Ya’juj dan Ma’juj telah terbuka sebesar ini. Wuhaib (perawi Hadits) melingkarkan jarinya membentuk angka sembilan puluh (menekuk jari telunjuk sampai ke pangkal ibu jari).

Standard

Sabar

1. Allah memberikan ujian dan cobaan dengan berbagai bentuk :
•Cobaan jasmani dan rohani yang berupa penyakit, kecelakaan, rasa duka cita dll
•Cobaan berupa kehilangan harta kekayaan, kebakaran dll
•Cobaan melalui sanak keluarga yang ditimpa penyakit, kematian dll.

Pada dasarnya semua ujian dan cobaan yang menimpa itu adalah :
>Disebabkan kedurhakaan terhadap Allah oleh manusia itu sendiri, itu sebagai balasan untuk menghapuskan dosa kedurhakaannya itu, agar manusia menjadi sadar atas kedurhakaannya.
>Takdir Allah untuk menguji hamba-Nya dan kelak di akherat akan diganti dengan rahmat dan keridlaan-Nya untuk yang sabar dan tawakkal ketika menerima ujian dan cobaan tersebut.

2. Wahai hamba Allah, bersabarlah kamu karena dunia seisinya meru pakan suatu ujian dan cobaan. Tiada nikmat kecuali disertai sakit, tiada kelapangan kecuali disertai kesempitan.

3. Terdapat 4 macam kesabaran :
>Menahan diri dari segala perbuatan jahat, dan dari menuruti dorongan hawa nafsu angkara murka. Menghindarkan diri dari segala perbuatan yang mungkin dapat menjerumuskan diri ke jurang kehidupan dan merugikan nama baiknya. Maka ketika syahwat bergejolak hendak menggo ncangkan keyakinan dan keimanan, hanya sabar lah yang dapat meneguhkan keimanan dengan memaksakan diri supaya berhenti di perbatasan syarak, dan sabar seperti inilah yang menyelamatkan keimanan kita.
>Sabar dalam menjalankan suatu kewajiban, yaitu tidak merasa berat atau merasa bosan dalam menjalankan ibadah. Oleh karena itu, suatu ibadah adalah membutuhkan suatu kesabaran.
>Sabar dalam membela kebenaran, melindungi kemaslahatan, menjaga nama baik bagi dirinya, keluarganya dan bangsanya. Sabar sepert ini adalah berani untuk membela kebenaran.
>Sabar terhadap kehidupan dunia, yaitu sabar terhadap tipu daya dunia, tidak terpaut kepada kenikmatan kehidupan dunia, dan tidak menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuan, melainkan hanya sebagai alat untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal diakherat nanti.

4. Wahai hamba Allah, ketahuilah bahwa sabar adalah tetap tegaknya do rongan agama menghadapi dorongan hawa nafsu. Sabar adalah sifat yang membedakan manusia dengan hewan dalam hal menundukkan hawa nafsu. Sedang dorongan hawa nafsu adalah tuntutan syahwat dan keinginan yang minta dipenuhi. Jadi sabar adalah suatu kekuatan, daya positip yang mendo rong jiwa untuk melaksanakan kewajiban. Demikian pula sabar merupakan kekuatan yang menghalangi seseorang untuk melakukan kejahatan.

5. Kebanyakan orang menduga bahwa sabar itu berarti merendahkan diri dan menyerahkan kepada keadaan, membiarkan diri hanyut dalam situasi dan kondisi, atau menghentikan usaha tanpa berusaha mencari jalan keluar yang baik, tanpa memperbaik i dan memperkuat amal perbuatan. Pengertian tersebut tidaklah tepat, sebab yang dimaksudkan dengan sabar adalah menghadapi cobaan dan ujian dengan cara yang baik, berusaha mencari jalan keluar dengan cara yang baik pula, dan membiasakan diri melakukan amal perbuatan yang saleh dan usaha yang terpuji yang disertai dengan doa kep ada Allah sambil menjadikan penglamannya itu suatu dorongan untuk mempunyai kemauan yang keras, keimanan, keyakinan yang
istiqomah.

6. Wahai hamba Allah, janganlah kamu lar i dari ujian dan cobaan, karena datangnya ujian dan cobaan yang dibarengi dengan sabar itu sebagai pondasi setiap kebaikan, pondasi kenabian, kerasulan, kewalian, dan kear ifan, juga kecintaan kepada Allah itu ada pada ujian dan cobaan. Jika kamu tidak sabar atas datangnya ujian dan cobaan yang menimpa kamu, berarti kamu tidak punya pondasi. Sesu ngguhnya kamu yang lari dari ujian dan cobaan yang menimpa kamu, berarti kamu tidak butuh kewalian, makrifat dan dekat dengan Allah. Bersabarlah kamu sehingga kesabaran itu seiring bersama hatimu, rahasiamu, dan rohmu pada pintu yang lebih dekat pada Allah Azza wa Jalla.

7. Manusia itu tidak lepas dari beban yang diberikan Allah kepadanya. Maka, kamu harus mengerti bahwa sabar atas beban, qodlo, dan qodar itu jauh lebih baik dibandingkan isi dunia dan akherat yang diserahkan kepadamu untuk bertasawuf.

8. Wahai hamba Allah, perbanyaklah sifat diam dan sabar dari orang-orang yang menyak itimu.Jika mereka berbuat dosa besar yaitu melakukan maksiat kepada Allah, barulah kamu tidak boleh diam karena hal itu terlarang dan haram bagimu untuk berdiam diri. Disaat itumenasehati adalah termasuk ibadah sedang membiarkannya adalah suatu kemaksiatan. Apabila kamu mampu menegakan amar makruf nahi munkar itu merupakan jalan yang baikyang telah terbuka dihadapanmu, maka masukilah dengan segera.

9. Wahai hamba Allah, kerjakanlah perintah-Nya dan hentikanlah per buatan terlarang. Bersabarlah kamu dalam mener ima ujian dengan memperbanyak amalan su nah sehingga kamu disebut orang sabar yang beramal untuk mencari taufik Allah. Rendahkanlah dirimu dihadapan-Nya. Hentikan maksiat dari jalur lahir dan membencinya melalui jalur batin. Peganglah taufik-Nya, dan bersabarlah kamu atas ketentuan-Nya.

10. “Sabar itu adalah bagian dari iman, seperti kepala merupaka bagian dari tubuh.” (Alhadits)
Jika iman tanpa kesabaran bagaikan tubuh tidak berkepala, maka jika tidak sabar ter hadapujian yang menimpa berarti keimanannya mati, seperti matinya orang yang hilang kepalanya. Adapun makna sabar adalah tidak mengadu kep ada seo rangpun ketika mendapat ujian dan cobaan, tidak tergantung pada kasualita (hukum sebab akibat), tidak membenci cobaan dan juga tidak merasa gembira akan hilangnya cobaan.

11. Untuk mengetahui sampai dimana kadar cinta kita kepada Allah, maka Allah akan menguji dimana kita tidak akan lepas dari segala ujian yang menimpa kita baik musibah yang berhubungan dengan diri kita sendiri, maupun yang menimpa pada sekelompok manusia atau bangsa. Terhadap semua ujian itu, hanya sabarlah yang memancarkan sinar yang memelihara seorang muslim dari jatuh kepada kebinasaan, memberikan hidayah yang menjaga dari rasa putus asa. Sebagai orang muslim wajib menegu hkan hatinya dalam menanggung segala u jian dan penderitaan dengan tenang. Demikian juga dalam menunggu hasil pekerjaan, kita hadapi dengan ketabahan dan sabar serta tawakkal.

12. Apabila seseorang menghadapi cobaan atau penderitaan itu dengan ridlo, ikhlas dan mencari jalan keluar dengan cara yang sebaik-baiknya, tidak mengeluh, tidak mengadu, apalagi merintih, maka Allah pasti akan memud ahkan baginya urusan hisabnya. Allah akan menyegerakan pahalanya, memberkati kehidupannya sehingg a timbangan amalnya tidak diberati dengan kejahatan tetapi diberati dengan ketaatan dan pahala. Jadi, apabila manusia itu menghadapi ujian dengan sabar, maka ia termasuk lulus dari ujian itu. Tetapi apabila menghadapi ujian dengan tidak sabar, maka ia tergolong manusia yang tidak berhasil, dan putus asa itu bukanlah sifat orang mukmin.

13. Orang-orang yang mencintai Allah tentu rela atas ketentuan-Nya, bukan kepada yang lainNya. Mereka selalu memohon pertolongan dari-Nya dan mempersempit selain Dia. Pahitnya dan susahnya kefakiran sebagai kemanisan baginya, tanpa mengurangi arti rela kepada-Nya, dan merasa senang dan nikmat bila bersama-Nya. Kayanya dalam kefakir annya, nikmatnya dalam kesakitannya, kejinakannya dalam ketakutannya, dan dekatnya dalam jauhnya. Alangkah senang bagimu wahai orang-orang yang sabar, orang-orang yang rela, orang-orang
yang memadamkan nafsu dan hawanya.

Standard

Renungan

1. Berilah pendidikan yang baik kepada orang yang kamu kuasai urusannya dan pendidikannya, dan orang yang wajib kamu perhatikan. Sabda Nabi : Janganlah kamu angkat tongkatmu kepada keluargamu, melainkan takut-takutilah mereka kepada Allah.

2. “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbicara yang baik atau diam.” (Alhadits) Janganlah kamu berbicara berlebih-lebihan karena bahayanya banyak bicara adalah kedustaan. Orang yang banyak bicaranya itu banyak pula dustanya.

3. Wahai hamba Allah, hormatilah orang yang mencintaimu serta balaslah kecintaannya dengan mencintainya pula. Janganlah kamu marah bukan karena Allah dan janganlah kamu memerintahkan orang untuk melakukan kebaikan kecuali kamu sendiri mulai melakukannya. Janganlah kamu melarang orang dari melakukan keburukan sebelum kamu sendiri mulai meninggalkannya.

4. Wahai hamba Allah, sambunglah o rang yang memutuskan hubungan denganmu, maafkanlah orang yang manganiaya dirimu, dan berilah o rang yang tidak per nah memberi sesuatu kepadamu.

5. Janganlah kamu melanggar apa yang kamu larang. Apabila kamu berkata hendaklah yang ringkas, jangan ngelantur.

6. Janganlah kamu melakukan perbuatan rahasia, yang tid ak baik jika kamu lakukan secara terang-terangan. Jagalah dirimu dar i segala sesuatu yang dapat men imbulkan dugaan yang tidak baik mengenai agamamu dan duniamu.

7. Persedikitlah permintaanmu kepada orang lain, karena hal itu merupakan suatu kehinaan pada dirimu.

8. Wahai hamba Allah, jauhkanlah dirimu dari orang yang kotor mulut, janganlah kamu duduk dengan orang-orang yang lemah akhlaknya. Dari Ibnu Mas’ud : Nilailah manusia itu dengan teman-temannya, karena seseorang itu hanya berteman dengan orang yang seperti dirinya. ´

9. Tolonglah orang yang teraniaya dan belalah dia semampumu serta cegahlah tangan orang zalim agar tidak melakukan kezaliman. Sabda Nabi : Barangsiapa berjalan dengan orang yang teraniaya sehingga ia dapat menetapkan hak nya, maka Allah akan mengukuhkan kakinya pada hari tergelincirnya kaki-kaki manusia (hari kiamat). ´

10. Sesungguhny yang aku takutkan kepadamu ada dua macam : mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. ´ (Alhadits) Ingatlah bahwa menuruti hawa nafsu itu akan menghalangi orang melakukan kebenaran, dan
panjang angan-angan itu menjadikan orang lupa akherat dan lupa Allah Azza wa Jalla.

11. Wahai hamba Allah, ter imalah per mintaan maaf orang yang meminta maaf kepadamu, dan tariklah apa yang kamu benci. Sabda Nabi : ³Barangsiapa meminta maaf kepada saudaranya sesama muslim, lantas dia (yang dimintai maaf) tidak menerimanya, maka dia berdosa sebagai orang yang berbuat jahat.

12. Kasihanilah orang lain niscaya Allah mengasihani kamu. Jika kamu tidak mengasihi orang lain, maka Allah pun tidak akan mengasih imu.

13. Hendaklah kamu suka mentaati Allah niscaya Allah akan mencintaimu dan menjad ikan mahluk-Nya cinta kepadamu.

14. Wahai hamba Allah, apabila kamu bersumpah untuk melakukan sesuatu yang bukan merupakan ketaatan kepada Allah, maka janganlah kamu melaksanakannya, dan bayarlah kafarat untuknya.

15. Berterima kasihlah kepada orang lain atas kebaikan mereka kepadamu, dan balaslah kebaikannya itu jika kamu mampu.

16. Janganlah kamu bertengkar dengan seseorang sekalipun kamu benar. Jika kamu hendak melakukan sesuatu dari urusan dunia, maka pikirkanlah akibatnya.

17. Wahai hamba Allah, janganlah kamu merasa suka jika seseorang ditimpa sesuatu yang kamu sendiri tidak suka mengalaminya.

18. Sabda Nabi : Tiadalah Allah memberi suatu nikmat kepada seseorang lalu ia mengucapkan alhamdulillah, melainkan sikap dan ucapan yang demikian itu lebih besar daripada nikmat itu sendiri, meski sebesar apapun nikmat itu.

19. Jika kamu ingin melakukan sesuatu yang merupakan ketaatan kepada Allah, maka janganlah kamu menunda-nunda jika kamu dapat melakukannya segera, karena dirimu sendiri tidak dijamin aman dari peristiwa-peristiwa yang bakal terjadi. Jika kamu punya keinginan lain yang bukan merupakan ketaatan kepada Allah, jika kamu dapat untuk tidak melaksanakannya, maka janganlah kamu laksanakan. Semoga Allah memberikan kesibukan lain untuk mu sehingga kamu meninggalkannya.

20. Janganlah kamu menyebut-nyebut kebaikan yang pernah kamu berikan kepada seseorang, karena yang demikian itu dapat menghilangkan pahalamu. Jika ada orang yang berbuat kebaikan kepadamu sedang kamu tidak dapat membalasnya, maka pujilah dia dan sebut-sebutlah.

21. Kalau kamu telah bersumpah untuk melakukan sesuatu sedangkan orangtuamu atau salah satunya bersu mpah agar kamu melakukan sesuatu yang berbeda dengan yang kamu kehendaki, maka taatilah kedua orang tuamu asalkan perintah mereka itu bukan maksiat.

22. Jadilah kamu seakan-akan malaikat pencabut nyawa telah mencabut nyawamu, seakan-akan bumi menelanmu, seakan-akan gelombang dahsyat menyedotmu kedalam lautan dan meneggelamkanmu. Barangsiapa telah sampai pada kondisi ini niscaya hukum sebab akibat tidak berpengaruh lagi bagimu. Karena, keberadaan itu hanyalah menurut pandangan lahiriah saja, bukan menurut alam batin.

23. Wahai manusia jahil, kamu ingin mengu bah dan mengganti kehendak-Nya, apakah kamu mengaku menjadi tuhan kedua setelah Allah Azza wa Jalla, dimana kamu memaksa Dia agar menyesuaikan suatu hal menjadi kebalikannya.

24. Orang-orang yang ber iman itu tetap bertahan dar i cobaan dan u jian Allah, bahkan cobaan dan ujian tersebut malah mengantarkan dir inya ke puncak kebaikan, baik didunia maupun di akherat. Dalam menghadapi cobaan dan ujian tersebut adalah menerima dan sabar dalam menghadapinya tanpa mengadu kepada orang lain atau meminta bantuan pada selain Allah, bahkan saat itu dia lebih g iat dan lebih sibuk bersama Allah Azza wa Jalla.

25. Siapa yang tidak berbudi dengan pendidikan syariat, niscaya dia akan dididik dengan api neraka dihari kiamat nanti.

26. Wahai hamba Allah, bertobatlah kamu. Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah Azza wa Jalla menguji kamu dengan suatu ujian itu agar kamu bertobat kepada-Nya, tetapi kamu tidak memikirk an untuk melepas maksiat terhadap-Nya ?

27. Wahai hamba Allah, manusia telah disediakan celaan dan pujian seperti musim panas dan musim dingin, atau seperti siang dan malam. Keduanya sama-sama tidak lepas dari pengawasan Allah. Oleh karena itu tidak seorangpun yang mampu mendatangkan celaan dan pujian atau salah satunya, kecuali dengan izin Allah. Apabila hal tersebut telah jelas bagimu, maka kamu tidak perlu bangga dengan pujian dan tidak cemas dengan adanya celaan.

28. Wahai manusia, celaka benar kamu yang meng iku ti perbuatan ahli neraka tetapi mengharapkan surga. Ini menunjukkan kerakusanmu yang tidak pada tempatnya, karena kamu tidak berhak memperoleh apa yang kamu harapkan itu dikarenakan jalan yang kamu tempuh adalah menyimpang jauh. Janganlah kamu terperdaya oleh kenikmatan dunia yang kamu sangka kamu peroleh. Padahal dalam waktu dekat hal itu akan tercabut darimu. Allah akan merendahkan kehidupanmu sehingga kamu tunduk dan patuh kepada-Nya.

29. Wahai hamba Allah, jadilah kamu orang yang benar, tentu kamu akan baik. Jadilah kamu pembenar dalam hukum tentu kamu baik dalam keilmuan. Jadilah kamu baik dalam perasaan tentu kamu baik dalam kenyataan. Setiap keselamatan yang ada dalam ketundukan kepada Allah adalah sebagai perwujudan dari melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya serta sabar atas ketentuan-Nya. Barangsiapa menuruti Allah tentu Allah mengabulkan permohonan nya dan doanya, dan siapa yang tunduk kepada Allah tentu orang lain akan tunduk kepadanya.

30. Wahai hamba Allah, tunduklah kamu kepada-Nya untuk mencari ridlo-Nya. Jagalah sesuatu yang diberikan dan yang menyebabkan siksa. Taat kepada Allah adalah melaksanakan segala perintah dan meng hentikan segala yang dilar ang serta bersabar atas ketentuan-Nya. Bertobatlah kamu, menangislah dihadapan-Nya, rendahkanlah dirimu dengan derai airmata sepenu h hati. Menang is karena takut kepada-Nya itu suatu ibadah dan mata yang menangis karena takut Allah itu tidak akan tersentuh oleh panasnya api neraka diakherat nanti, maka menangislah kamu karena menangis itu membawa manfaat bagimu. Wahai hamba Allah, mengapa kamu menuhankan dirimu, berita apa yang kamu terima sampai kamu sombong kepada Allah Azza wa Jalla. Mengapa kamu berkehendak selain yang Dia kehendaki, bahkan kamu cinta musuh-musuh-Nya, setan yang terkutuk. Mengapa jika keputusan Tuhan telah tiba kamu berontak tidak sabar, bahkan kamu lari dan mencabut apa yang menjadi kehendak-Nya.

31. Sabda Nabi : “Apabila seorang hamba malas dalam beramal, niscaya Allah Azza wa Jalla mengujinya dengan rasa duka cita.” (Alhadits) Siapapun yang malas beramal, maka akan memperoleh cobaan dari Allah berupa duka cita, kego ncangan, dan kesusahan. Ujian itu mungkin berup a surutnya rezeki sehingga hatinya ragu dan susah, dan ujian duka cita itu menetap dalam hatinya sehingga apapun yang dihadapinya selalu dihantui oleh perasaan susah dan goncang, hatinya tidak tenang, perasaannya selalu pesimis dan selalu dihantui perasaan kurang, kurang baik, kurang banyak, kurang cantik, kurang sempurna, dimana perasaan goncang seper ti itu karena malas beramal dan sedikitnya melakukan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.

32. Sabda Nabi: “Barangsiapa hari-harinya sama berarti ia tertipu. Dan barangsiapa hari kemarennya lebih baik daripada hari ini berarti ia tertutup dari rahmat.” (Alhadits)

33. Tobat itu landasan iman, penekunannya terletak dalam berdzikir dan taat kepada-Nya. Jika ditekuni niscaya dzikir itu menjad i obat jiwa. Bertobatlah dengan lisan iman, niscaya membawa keberuntu ngan. Jadikanlah iman sebagai pedangmu ketika datang ujian Allah.

34. Bertobatlah kepada Allah, janganlah kamu beramal baik kecuali untuk-Nya, jangan kamu tujukan kepada dunia atau kepada akherat. Jadilah kamu seperti orang yang berhasrat kepada-Nya semata, berikan hak ketuhanan-Nya. Dia harus kamu sembah. Janganlah kamu beramal untuk mencari pujian, rezekimu itu tidak bertambah atau berkurang, karena sesuatu yang telah diputuskan untukmu itu pasti datang, baik yang berupa kebaikan atau keburukan. Persempitlah kerakusanmu dan jadikanlah kematian sebagai titik pandangmu agar kamu tidak terlalu menyimpang jauh dari kebenaran.

35. Wahai hamba Allah, sibukkanlah dirimu untuk membantu orang-orang yang terjepit, orang- orang yang teraniyaya. Ber ikanlah waktumu kepada o rang-orang fakir misk in yang terpedaya, karena jika waktumu tersita untuk menolong hamba-hamba Allah, adalah sama halnya kamu meno long Allah Azza wa Jalla.

36. Tinggalkanlah berbesar diri dihadapan Allah atau terhadap sesamamu, karena perbuatan itu termasuk diantara sifat orang sombong yang muka mereka akan diasah oleh Allah dengan api jahanam. Termasuk orang so mbo ng pula jika kamu marah kepada-Nya. Seperti halnya jika kamu mendengar suara adzan tetapi tidak menjawabnya, tidak bersegera mengerjakan sholat maka berarti kamu telah ber laku so mbo ng kepada Allah. Dan bila manusia berbuat aniaya terhadap sesamanya berarti ia telah berbuat sombong dihadapan-Nya.

37. Janganlah kamu menganggap dirimu lebih berharga, lebih mulia, lebih terhormat, lebih kuat, lebih gagah, dan lebih pandai dar ipada orang lain. Karena, sifat demikian adalah keso mbo ngan dimana karena mempunyai sifat ser ba merasa lebih in ilah ak hirnya menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. wallohu a’lam bisshowaab. Wassalamu alaikum wr,wb.

Standard